Eskatologi dalam Kitab Suci Perjanjian Lama

Aspek teologis yang sangat penting dan mendasar dalam memahami keseluruhan cerita Alkitab adalah eskatologi dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Eskatologi berasal dari kata Yunani "logos", yang berarti "ajaran" atau "ilmu pengetahuan", dan "eschatos", yang berarti "terakhir" atau "akhir zaman." Eskatologi dalam Perjanjian Lama adalah sebuah pengharapan hidup yang menuntun umat Israel dalam perjalanan sejarah mereka. Itu lebih dari sekadar doktrin tentang akhir zaman. Dalam eskatologi Perjanjian Lama, Allah digambarkan sebagai penguasa sejarah yang mengontrol segala sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu pemulihan dan keselamatan lengkap umat-Nya.Berbeda dengan pandangan eskatologi modern yang seringkali berfokus pada kehidupan setelah kematian, eskatologi dalam Perjanjian Lama lebih menitikberatkan pada intervensi Allah dalam sejarah dunia dan umat Israel, yang akan membawa keadilan, pembaruan, dan pemulihan tatanan ciptaan.

Pengharapan eskatologis umat Israel dalam Kitab Perjanjian Lama sangat terkait dengan konsep "Hari Tuhan" (Yom Yahweh), sebuah tema utama yang sering muncul dalam nubuat para nabi. Hari Tuhan disebut sebagai saat ketika Allah akan melakukan tindakan besar dan menentukan pada kehidupan manusia. Pada hari itu, Allah akan menghakimi bangsa-bangsa yang jahat, membalas perbuatan jahat, dan sekaligus memulihkan umat-Nya yang setia. Konsep ini memperhatikan aspek penghakiman serta pembaruan dan pemulihan. Para nabi seperti Yesaya, Yeremia, dan Amos menggambarkan hari Tuhan sebagai saat keadilan ilahi ditegakkan, penderitaan diakhiri, dan kerajaan Allah ditegakkan sepenuhnya. Sketologi ini memberikan penghiburan dan kekuatan bagi orang Israel yang mengalami kesulitan, penindasan, dan pembuangan, karena mereka percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi. Harapan akan hari Tuhan ini juga menyiratkan janji tentang kedatangan Mesias yang akan membawa keselamatan dan mendirikan kerajaan Allah yang kekal, sehingga eskatologi Perjanjian Lama tidak hanya bersifat apokaliptik, tetapi juga messianik dan restoratif.

Selain itu, eskatologi dalam Perjanjian Lama juga mencakup pandangan tentang kematian dan kehidupan setelah kematian, yang berbeda dengan konsep yang dimiliki orang di zaman sekarang. Dalam banyak bagian Perjanjian Lama, tempat orang mati disebut Sheol, yang merupakan tempat atau keadaan di bawah bumi tempat roh-roh orang mati berada. Sheol digambarkan sebagai tempat yang gelap dan sunyi di mana kehidupan duniawi tidak berlangsung seperti di dunia ini. Banyak teks Perjanjian Lama tidak memberikan gambaran yang jelas tentang kebangkitan atau kehidupan kekal. Akibatnya, fokus utama eskatologi PL adalah upaya Allah untuk membangkitkan dan menyelamatkan umat-Nya pada waktu yang akan datang. Konsep kebangkitan mulai muncul secara lebih jelas pada akhir periode Perjanjian Lama, terutama dalam kitab-kitab seperti Daniel, yang berbicara tentang kebangkitan orang benar dan orang fasik untuk penghakiman terakhir.

Singkatnya, eskatologi yang ditemukan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama berfungsi sebagai dasar penting untuk harapan umat Israel akan kedatangan hari Tuhan, yang akan membawa pembaruan dan hukuman. Menurut eskatologi ini, Allah memiliki otoritas atas sejarah dan akan menyelesaikan tugas keselamatan-Nya dengan sempurna. Pemahaman ini mengajak orang percaya masa kini untuk menantikan penggenapan janji Allah dengan sabar dan iman. Mereka juga diminta untuk hidup dalam kesetiaan dan ketaatan sambil menantikan karya penyelamat Allah di akhir zaman. Akibatnya, eskatologi Perjanjian Lama tidak hanya memberikan nasihat tentang masa depan, tetapi juga menjadi sumber kekuatan dan pengharapan untuk membantu orang hidup dengan cara yang benar dan penuh makna saat ini.

 

Refleksi pribadi

Eksatologi dalam Kitab Suci Perjanjian Lama mengajarkan kita bahwa berharap akan karya Allah di akhir zaman adalah sikap hidup yang penuh iman dan keyakinan, bukan sekadar teori teologis yang abstrak. Pengharapan eskatologis yang diajarkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama meneguhkan hati kita bahwa Allah adalah penguasa sejarah yang setia dan berdaulat dalam kehidupan yang seringkali dipenuhi dengan ketidakpastian, penderitaan, dan tantangan. Kata-kata Ibrani seperti "qawa" dan "sabar" menunjukkan sikap menunggu dengan sabar dan aktif. Ini mengingatkan kita untuk tidak menyerah pada keputusasaan dan tetap teguh pada janji Allah yang pasti digenapi. Lebih dari itu, eskatologi Perjanjian Lama mengajarkan bahwa keselamatan dan pembaruan yang dijanjikan Allah bukan hanya soal masa depan yang jauh, tetapi juga mengandung panggilan untuk hidup setia dan taat dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar